Bandung, koreksinews.co.id – Penjabat Wali Kota Bandung, A. Koswara mendorong dinas pendidikan untuk membuatkan standar pengelolaan sampah di sekolah maksimal residunya 20%.
Hal itu disampaikan Koswara dalam kegiatan pembinaan pengelolaan sampah untuk satuan pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA/SMK se-kota Bandung Berlangsung SMP Negeri 2 Jl. Sumatera No.42, Kota Bandung, Senin 21 Oktober 2024.
Pembinaan pengelolaan sampah untuk satuan pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA/SMK se-kota Bandung
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekertaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Tantan Syurya Santana, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan dan Pengembangan SMP (PPSMP) Dani Nurahman, Kepala Sekolah SD, SMP, dan SMA/SMK se-kota Bandung serta tamu undangan lainnya.
Pada kesempatan itu, Pj Walikota Bandung bertanya kepada kepala sekolah tentang pengelolaan atau manajemen sampah di sekolahnya, berapa yang dihasilkan, berapa yang dikelola, serta berapa sisanya.
Dari hasil pertanyaan tersebut Koswara menilai residu atau tersisa sampah, setelah dipisahkan masih 30%.
“Kalau residunya atau tersisa sampah, setelah dipisahkan masih 30% ini masih tinggi, belum sekolah bebas sampah namanya. Nah upayakan Pak Kadisdik dengan teman-teman di sekolah semua residunya harus di bawah 30% syukur-syukur 10%.”, Pesan Koswara kepada para kepala sekolah melalui Kepala Dinas Pendidikan.
Lanjut Koswara, Harus ada upaya tambahan bagaimana manajemen sampah di sekolahnya, ini tolong semua bergerak, tugas pertama itu, ketahui dulu jumlah sampahnya, timbulnya berapa, bagaimana mengelolanya dan tetapkan indikator keberhasilannya.
Selain itu, Koswara mendorong dinas pendidikan untuk membuatkan edukasi kepada siswa baik melalui ekstrakurikuler maupun hal lainnya.
“Jadi yang pertama manajemen pengelolaan sampah di sekolah dengan indikator yang ditetapkan oleh disdik itu 20% maksimal. Terus yang kedua, tolong ini tentang edukasinya kepada siswa dibuatkan sistematis, jangan berbeda-beda, apakah edukasinya melalui ekstrakurikuler ataukah hal yang lainnya, bapak tetapkan bersama dengan tim perumusnya”, pinta Pj Walikota kepada Dinas Pendidikan.
Koswara juga berpesan kepada para kepala sekolah untuk membentuk peserta didik yang paham mengelola sampah secara mandiri.
Tugas utama bapak ibu semua sebagai pendidik adalah membentuk budaya yang paham tentang pengelolaan sampah dari siswanya.
Sebuah kebiasaan yang membudaya kepada siswa, sehingga siswa bisa membawa pengetahuannya ke rumah.
“Buatkan tes-tes yang meyakinkan bahwa anak didik, paham benar tentang pengelolaan, karena generasi ke depan harus bener-bener paham tentang pengolahan sampah secara mandiri,”imbuhnya.
Yang ketiga, Koswara berpesan kepada dinas pendidikan untuk melibatkan sekolah, mengedukasi masyarakat dan memberikan manfaat ke masyarakat dalam mengelola sampah.
Sekolah harus punya peran terhadap lingkungan RW dan kelurahannya, silahkan perannya mau dibentuk jadi seperti apa, apakah membantu langsung atau istilahnya menjadi cyber army.
Artinya bapak ibu semua melihat Kehidupan atau pengelolaan sampah di lingkungannya ada nggak yang buang sampah sembarangan, ada gak yang sampahnya tidak dipilah, dan ada nggak misalnya sampahnya dikelola oleh vendor tapi vendornya gak bener.
“Jadi banyak peran yang bisa dilakukan oleh bapak ibu semua, sebagai bagian dari satgas sampah di sektor pendidikan. Selain fungsi pendidikan, fungsi kemasyarakatan tolong dilakukan membantu program pengolahan sampah,”ujarnya.
Pj walikota Bandung Koeswara pun menambahkan kenapa dalam kegiatan ini di undang Kepal SMA dan SMK se-Bandung.
Sebab menurut Pj Walikota, bukan masalah tentang kurikulumnya, akan tetapi tanggung jawab bersifat kewilayahan, karna beberapa SMA dan SMK itu masih di kewilayahan Kota Bandung.
“Jadi saya diminta kepada Kepala dinas pendidikan untuk menyampaikan hal itu kepada kepala sekolah SMA
dan SMK,” ungkap Pj. Walikota Bandung.
(Saipullah)









