Garut, Koreksinews.co.id | SMPN 1 Pangatikan Kecamatan Pangatikan Gelar kegiatan perpisahan siswa/wi Kelas IX bertempat di halaman Sekolah menengah pertama Negeri 1 Pangatikan Selasa 25/6/2024.
Pasca covid 19 melanda Dunia tidak terkecuali negara kita indonesia, terlebih saat ini Kabupaten Garut menduduki klarifikasi kabupaten miskin ektrem ke 2 di jawa barat, mungkin ini alasan bagi sebagian orangtua siswa-siswi SMPN 1 Pangatikan meradang,
Karena menurut orang tua siswa yang anaknya bersekolah di SMP Negeri 1
Pangatikan Kabupaten Garut yang ikut dalam kegiatan perpisahan siswa orang tersebut enggan disebutkan identitasnya, kepada awak media di sela sela Acara menyampaikan bahwa” mau tidak mau harus mau, ada tidak ada harus ada mungkin itu posisi yang kami alami saa ini karena paska adanya musyawarah para orangtua siswa, orangtua terpaksa harus memenuhi dan membayar iuran untuk acara perpisahan anak sebesar Rp 250.000 per siswa Kelas IX.
“Apa boleh buat atuch terpaksa harus membayarnya. Terus Harus gimana lagi jika tidak membayar iuran nanti khawatir anaknya jadi minder di sekolah padahal iuran tersebut sangat berat, karena setelah perpisahan harus mempersiapkan dan persiapan biaya sekolah pada jenjang berikutnya, seperti untuk biaya pendaftaran, pembelian Seragam, pembelian baju batik, pembelian baju olahraga, tas, buku, sepatu, dll”. Ungkapnya.
Awak media pun sempat menghubungi
Melalui panggilan WashApp Kabid SMP. H. Yusup (25/06/24) untuk menanyakan permasalan ini, menurutnya mengenai hal ini tidak dibenarkan terlebih ada kata memungut apalagi pungli. “Karena kalau pungli artinya, keperuntukannya tidak jelas buat apa-apanya, terus yang mengkoordinirnya juga bukan orang yang berkepentingan atau kompeten atau yang tidak bertanggungjawab itu baru pungli, mengenai acara perpisahan/pelepasan di tiap sekolah itu seharusnya di musyawarahkan dulu antara komite dan pihak wali siswa, apa ada yang keberatan atau tidak, karena itu bentuknya tidak wajib, apa itu keinginan para siswa atau siapa”. Tegasnya
Beberapa awak media menyampaikan bahwa sebelum menemui kepala sekolah sudah mencoba menghubungi/ mengkonfirmasi ketua panitia dan ketua komite sekolah namun terkesan ketua panitia dan ketua komite enggan untuk wawancarai awak media, karena saat mau di dimintai keterangan terkesan, tidak mau di konfirmasi oleh pihak media, sampai beberapa awak media terkesan dijadikan bola pimpong , akhirnya kami menemui Kepala sekolah diruang guru.
Menurut keterangan Kepsek SMP Negeri 1 Pangatikan Didi Rusnadi, S.Pd, M.Pd, saat di konfirmasi diruang guru menyampaikan , “pihak sekolah hanya mempasilitasi tempat, kegiatan perpisahan itu di kelola oleh ketua komite dan panitia, bagi pihak sekolah mempersilahkan jika mau menggelar acara di luar sekolah sekalipun mau di Salegar ( Rumah Makan ) itu biayanya sampai 12 Juta rupiah, kalau di sini ( sekolah ) kan gratis, silahkan awak media kalau mau konfirmasi terkait biaya perpisahan itu tanyakan kepada panitia dan komite” ujarya.
Setelah menyampaikan jawaban klarifikasinya terkait keterlibatan sekolah dalam kegiatan perpisahan siswa kelas IX, ada bahasa yang nyeleneh dan kurang pantas disampaikan oleh Kepala SMP Negeri 1 Pangatikan dengan intonasi bahasa tinggi dan nampak raut wajah seperti menahan emosi, kemudian melontarkan beberapa kalimat yang diucapkan dalam bahasa sunda “saya juga pernah jadi wartawan, jadi saya apal jero-jeroana wartawan lah kumaha” ( saya juga pernah jadi wartawan jadi faham dan tahu dalam-dalamnya wartawan itu bagaimana!! ).
Mendengar kalimat yang dilontarkan Kepala sekolah mendengar intonasi bahasa sangat tinggi dan melihat mimik wajah Kepala Sekolah SMPN 1 Pangatikan Kecamatan Pangatikan sepertinya menahan Emosinya kami awak media merasa tidak dihargai dan terkesan kepala sekolah menganggap rendah kami awak media yang hadir menemui yang bersangkutan diruang guru. (Tim)













